Sabtu, 11 Oktober 2014

TNI AU Perkuat Alutsista dan Perang Informasi





Pesawat Su-27/30 Flanker TNI AU (photo : Kaskus Militer)
Penguasaan informasi menjadi penekanan pertama sebelum melaksanakan operasi militer perang (OMP). Bagaimana kita akan melakukan suatu penyerangan terhadap kekuatan musuh kalau tidak menguasai informasi mengenai seberapa besar kekuatan musuh dan apa yang akan dilakukan musuh terhadap kita. Asisten Operasi KSAU Marsda TNI Sudipo Handoyo menjabarkan hal tersebut kepada Angkasa di kantornya bulan lalu. Menurut Sudipo, upaya penguasaan berbagai macam informasi tengah dan harus dilakukan TNI AU. Untuk mencapai taraf ini, TNI AU harus melengkapi beragam perangkat perang informasi yang dibutuhkan.

Dalam melaksanakan kampanye perang udara, seperti telah dilakukan dalam format latihan gabungan, TNI AU telah mengedepankan faktor perang informasi. Informasi kekuatan musuh dikumpulkan sebanyak-banyaknya dan kemudian digunakan sebagai dasar melaksanakan strategi penyerangan. “Jangan sampai kita berniat mau melakukan pengeboman terhadap kekuatan musuh di suatu pangkalan, ternyata musuh telah memindahkan alutsista dan kekuatan tempurnya lebih dulu,” ujarnya mencontohkan.


Menghancurkan musuh di basis kekuatannya sendiri, seringkali dianggap sebagai suatu tindakan agresi. “Pemahaman kita yang salah, yang akhirnya melahirkan opini bahwa kalau kita menyerang musuh di luar wilayah NKRI maka kita dianggap menjadi negara agresor. Padahal itu bukan agresi, sejatinya ini merupakan bagian dari suatu operasi perang udara,” tandas mantan Komandan Seskoau ini.

TNI AU lanjut Sudipo, memiliki doktrin operasi udara strategis, yaitu menghancurkan musuh di negaranya. “Kalaupun musuh masih lolos juga masuk ke wilayah udara kita, maka kita lawan dengan operasi lawan udara ofensif. Di situ para penerbang tempur kita berjibaku menghadang mereka,” paparnya. Kekuatan musuh yang berhasil masuk, akan memungkinkan terjadinya peperangan di laut dan daratan. Hal ini yang sering diskenariokan dalam latihan gabungan, dimana musuh dari suatu negara berhasil masuk menguasai beberapa wilayah NKRI, dan baru setelah itu dihancurkan melalui suatu operasi gabungan.

Jet Tanker

Mengenai penambahan alutsista, Asops KSAU menjelaskan. Sesuai rencana strategis yang dituangkan dalam Minimum Essential Force (MEF) tahap I (2009-2014), TNI AU saat ini tengah menunggu beberapa pesawat yang sudah dibeli namun belum datang semua. Di antaranya F-16C/D 52ID yang akan lengkap datang 24 unit tahun depan. Pesawat ini akan mengisi Skadron Udara 16 di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru dan sebagian lagi mengisi Skadron Udara 3, Lanud Iswahjudi, Magetan. Fasilitas Skadron Udara 16 saat ini sudah lengkap, mulai dari shelter, hanggar, perkantoran hingga perumahan dinas. (Pada saat artikel ini diturunkan, Skadron Udara 16 rencananya akan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir September 2014).

Selain Skadron Udara 16, TNI AU akan membangun Skadron Udara 33 di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar. Skadron ini akan diisi pesawat C-130H yang merupakan hibah dan beli dengan harga murah dari Australia. 

TNI AU juga akan membentuk Skadron Udara 27 di Lanud Halim Perdanakusuma untuk pesawat CN295 yang menggantikan Fokker 27. Saat ini tujuh CN295 dari PT DI sudah diserahkan kepada TNI AU dan akan terus ditambah hingga menjadi 16 unit.



Sementara Skadron Udara 2 yang saat ini menaungi CN295, tetap akan mengoperasikan CN235.

Rencana berikutnya, adalah pembentukan Skadron Udara 9 di Kalijati yang akan diisi helikopter Combat SAR EC725 Cougar. Tahun ini dijadwalkan empat Cougar akan tiba di Tanah Air. 

Ke depan TNI juga akan membentuk Skadron Udara 18 di Manado yang akan diisi pesawat intai taktis. "Mungkin sekelas CN235 atau CN295," ujar Sudipo Handoyo.

Sementara Skadron Udara 5 akan diisi pesawat intai strategis B737-200 Surveiller, namun perangkat pesawatnya akan ditingkatkan.

Pesawat lain yang masih ditunggu adalah EMB-314 Super Tucano dari Brasil yang baru datang empat unit dari pembelian 16 unit. 



Sementara pesawat latih Grob G120TP-A telah lengkap datang 18 unit berikut simulatornya dan akan ditambah lagi enam unit.

Kemudian Skadron Udara UAV telah siap di Lanud Supadio, Pontianak. Dua unit UAV yang dibeli dari luar negeri saat ini telah datang dan akan memulai latihan pengoperasiannya.

Rencana lain dalam waktu dekat adalah pembentukan Lanud Tipe C di Liku, Sambas, Kalimantan Barat. TNI AU telah mendapatkan tanah pemerintah daerah setempat seluas 100 hektar. "Seluas 60 hektar akan digunakan untuk apron, aerodrome, dan perkantoran. Sedangkan 40 hektar lagi untuk perumahan personel lanud," ujar Sudipo yang telah meninjau langsung daerah ini. Disebutkan, di Liku saat ini terdapat landasan pacu sepanjang 750 m dan akan diperpanjang menjadi 2.500 m sehingga dapat didarati pesawat C-130 maupun B737 series.

Pembentukan lanud baru juga akan dilaksanakan di Sorong atau Manokwari. Pertimbangannya, karena antara Morotai dan Biak tidak ada lanud penyangga. "Sorong juga akan menjadi balancing TNI AU dan TNI AL yang akan membangun komando armada maritim baru. Selain juga untuk mendukung kegiatan operasi di Papua Barat," papar Asops KSAU.

Memasuki tahun 2015 atau MEF II, TNI AU telah mencanangkan pengganti F-5E/F Tiger II. Pesawat apa yang akan dibeli, masih dibahas di Kementerian Pertahanan.



"Intinya, kami ingin yang terbaik di eranya. Tapi, apapun keputusan pemerintah, kami harus loyal," ujarnya. Saat ini beredar kabar Su-30 atau Su-35 yang akan dipilih. Pertimbangan dari sisi pemeliharaan dan operasi, TNI AU sudah familiar. Sementara untuk simulator Su-27/30 TNI AU merencanakan pembangunannya tahun ini di Makassar.

TNI AU juga akan mengganti pesawat Fokker F28 dan B737-400 dengan pesawat B737-700 BBJ. 

Berikutnya adalah rencana pembelian jet tanker. "Opsinya dua, KC-767 dari AS atau Il-78 dari Rusia. Jet tanker diperlukan untuk mendukung operasi jet tempur sehingga bisa beroperasi penuh di udara dari Sabang hingga Merauke."

Selain melengkapi armada penempur, TNI kini juga tengah menambah jumlah radar. Dari 32 radar yang dibutuhkan, saat ini sudah terpenuhi 23 radar. Selain pembentukan satuan radar, TNI AU juga menambah mobile radar sebagai gap filler seperti di Nunukan, Kalimantan Utara. 

Berbagai upaya peningkatan alutsista dan kemampuan ini, kata Sudipo, adalah untuk meningkatkan deterens. TNI AU yang kuat akan dapat menghadapi berbagai ancaman, baik perang konvensional maupun perang informasi.

Kamis, 09 Oktober 2014

Terima Kasih, Panglima Tertinggi...............


Duhai Panglima Tertinggi,
Engkau telah jadikan hulubalang kami menjadi layak pakai, menjadi siap pakai, tidak lagi sekedar menggapai asa melainkan sudah mendapat asa dengan kehadiran beragam jenis alutsista. Kegembiraan kami adalah kegembiraan bernafas kebanggaan manakala sang hulubalang berbaju loreng kembali memperlihatkan otot utuhnya dengan kombinasi kemampuan adu gelut personal dan keterampilan menggunakan teknologi alutsista.  Engkau lengkapi pasukanmu dengan berbagai jenis alutsista segala matra.
“Kemarahanmu” beberapa tahun silam karena ulah arogansi negara jiran yang hobi mengklaim benar-benar membuahkan hasil nyata.  Engkau nyatakan kemarahanmu bukan dengan kata-kata sumpah serapah atau retorika melainkan dengan menyusun rencana besar yang terukur dan terstruktur untuk mempersiapakan kekuatan pukul yang membanting.  Tidak dalam rangka masuk dulu baru digebuk tetapi banting dulu sebelum masuk.  Engkau nyatakan dengan perbuatan, engkau nyatakan dengan jalan yang jelas, karena engkau seorang jenderal yang cerdas yang tak perlu menjual statemen.  Dan engkau memang tidak pernah menjual statemen keras sebelum hulubalangmu dilengkapi dulu persenjataannya. Ketika berbagai alutsista mulai berdatangan, engkau pun secara lantang berkata di depan jenderal-jenderalmu pada buka bersama Ramadhan 2 tahun lalu: Kita akan menuju sebagai macan Asia.
Ketika Meninjau latihan Brigade Marinir
Begitulah memang karakter sejati seorang pemimpin militer yang memiliki segudang ilmu strategi.  Ketika bicara dalam bahasa diplomasi mengedepankan konten bicara tanpa harus merusak hubungan pertemanan, hubungan perjiranan.  Hubungan antar negara tetap saja baik dan akrab.  Namun di sisi yang lain diformulakan dengan adonan kekuatan harga diri bangsa, kedaulatan yang dijunjung tinggi untuk jangan coba bermain lagi di wilayah pelecehan teritorial.  Negeri ini menjunjung kuat nilai-nilai persahabatan antar negara dan selalu mengedepankan kualitas diplomasi untuk kenyamanan dalam interaksi antar rumah tangga masing-masing negara.  Tetapi negeri ini yang memilik karakter dan nilai kejuangan tidak ingin rumah besarnya, rumah gadangnya menjadi obyek pelampiasan nafsu keangkuhan jiran yang merasa lebih bertamadun menurut dia.
Engkau pun telah menunjukkan kekuatan kepemimpinan di negeri ini karena mampu menahan gejolak emosi meski caci maki terlalu sering dikumandangkan oleh petualang politik dalam negeri yang hanya pintar mencari kesalahan.  Sudah banyak buktinya, engkau bawa negeri ini dalam nilai ekonomi yang gemilang meski rakyatmu belum semua sejahtera.  Pertumbuhan ekonomi mencapai 6,4 % terbaik kedua setelah Cina, pendapatan per kapita mencapai US$ 4.000,- dan ini yang lebih dahsyat, kekuatan beli negeri ini mencapai nilai 1600 trilyun per tahun yang mampu membungakan dada dan mencerahkan wajah.  Sebagai kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN, terbesar ke 16 di dunia, masuk negeri idola bersama 3 negeri lain dalam MIST (Meksiko, Indonesia, South Korea dan Turki), pengaruh kepemimpinan adalah kunci semua prestasi, itu kalau kita membacanya dengan hati bening, bukan dengan hati busuk seperti yang dikoar-koarkan “ahli ekonomi sirik” di layar kaca.

Ketika masih menjadi Kolonel
Panglima, kami berterimakasih kepadamu karena tanggal 5 Oktober ini parade kewibawaan hulubalang republik mampu memberikan nilai langkah tegap yang sesungguhnya.  Meski belum semua alutsista yang dipesan datang namun gegap gempita menyambut kedatangannya  terasa nian dalam parade dan defile pengawal republik.  Langkah tegap yang diderukan adalah testimoni sebuah konser harga diri, nilai juang dan semangat berbangsa untuk diperlihatkan kepada siapa saja.  Bahwa bangsa ini mampu bertarung dengan taring tajam demi sebuah harga diri dari negara kepulauan terbesar di dunia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.
Berbagai jenis alutsista modern yang sudah dan segera mengisi kesatrian pengawal republik sejatinya adalah sebuah penghormatan terhadap nilai kepahlawanan sepanjang perjalanan bangsa ini.  Nilai penghormatan itu adalah kesediaan kita untuk selalu mengasah kemampuan bertarung dengan alutsista modern.  Karena sebagai pewaris tanah air, wasiat dari pendiri republik adalah mempertahankan setiap jengkal teritori negara ini dari segala jenis ancaman.  Itulah harga matinya, tidak ada tawar menawar karena air laut pun tidak ingin tawar.  Kita tidak ingin menjual persoalan atau persengketaan dengan rumah tetangga namun dalam etika pergaulan yang bernama harga diri jika ada yang menjual persengketaan kita pun patut membelinya.  Apalagi jika sampai melakukan show of force dengan memamerkan kekuatan militer di depan mata kita.
Begitulah Panglima, episode perjalanan bangsa ini sesungguhnya bisa mencapai sampai di batas ini tidak terlepas dari pengawalan yang terus menerus dari garda republik. Maka ketika engkau kembali mendandani dan mempertajam taring pasukanmu, itu adalah sebuah kewajiban yang harus terus digemakan.  Karena rumah yang besar ini harus mempunyai pagar yang kuat untuk menghadapi kondisi terburuk dalam dinamika kawasan.  Untuk itu sebagai anak bangsa, ucapan terimakasih dan penghargaan pantas dilayangkan kepada Panglima Tertinggi yang telah memberikan semangat dan harga diri hulubalang republik.  Kesatrian-kesatrian pengawal republik saat ini memberikan penghormatan bergelora kepada Panglima Tertinggi yang bersama komponen perwakilan rakyat dan seluruh rakyat telah memberikan dukungan penuh untuk perkuatan militer.
Selamat ulang tahun tentaraku,-

Kamis, 02 Oktober 2014

Pertimbangan Menarik Grippen







Biaya operasional per jam
Indonesia bisa menerbangkan 4 Gripen E dengan biaya per jam yang sama untuk menerbangkan Su-27/30/35. Biaya operasional Gripen per jam hanya $4800 per jam, ini berarti juga hanya 59% dibanding biaya F-16.

Rudal Jarak jauh MBDA Meteor
Gripen adalah pesawat pertama yang dipersenjatai missile jarak jauh ini. Meteor dengan teknologi Ramjet dianggap lebih baik / lebih modern dibanding AMRAAM C7 tipe terbaru yang bisa diekspor Amerika (kalau Indonesia bisa dapat ijinnya). Meteor juga lebih unggul dibanding R77 tipe konvensional Russia (kecuali tipe R-77PD, tapi ini belum operasional).

Logistik/Fleksibilitas
Gripen dirancang untuk bisa operasional di landasan "darurat" di masa perang. Dia bisa mendarat di jalan raya, asalkan ada cukup 800 meter jalan yang lurus. Gripen juga dirancang untuk bisa dipersenjatai/diisi bahan bakar (dalam keadaan perang) hanya dengan 5 orang yang terlatih dan 1 truk pengangkut.

Di masa perang, Indonesia dengan puluhan ribu pulau, berpotensi bisa "menyembunyikan" Gripen E mereka di jutaan tempat. Sekarang ini, kalau Lanud Sultan Hassanudin, Pekan Baru, dan Iswayudhi berhasil di bom di hari pertama, TNI-AU mungkin sudah akan berantakan.

Supercruise
Gripen E adalah salah satu tipe yang bisa melebihi kecepatan suara tanpa menggunakan afterburner. Su-27/30/35 dan F-16 mungkin bisa melaju lebih cepat, tapi tidak bisa lama-lama karena afterburner memboroskan bensin. Ini artinya, Gripen lebih mudah untuk melakukan "interception" (penyergapan). Merek juga bisa menembakan Meteor dari jarak yang lebih jauh dibanding negara lain yg punya F-35, F-18E, atau F-15SG.

Radar
Gripen E sudah membawa Selex AESA radar, dan juga memiliki IRST (Infra-Red Search & Tracking) - ini memudahkan untuk bisa mencari pesawat tipe F-35 (yang akan dibeli Singapore/ Australia) di udara. Jika TNI-AU membeli Gripen E, ini untuk pertama kalinya Indonesia bisa memiliki akses ke radar AESA yg akan menjadi standar untuk 50 tahun ke depan.


Networking
"Gripen E is a Networked Fighter". Sampai sekarang, hanya Su-27/30 di Indonesia yang mempunyai Airborne Network (TSK-2), ini pun tidak compatible dengan transfer data dari radar-radar TNI-AU di darat. Dengan membeli Gripen-E, Indonesia bisa mengintegrasikan  pesawat ini dengan semua radar di darat, dan juga Indonesia bisa membuka kemungkinan pembelian pesawat AWACS.

Support
Dengan teknologi transfer 100%, kedaulatan Indonesia lebih terjamin dibanding sekarang, yang menghandalkan F-16 buatan Amerika (yg pernah memblokade spare part). Mesin F414 memang masih buatan Amerika, tapi dari segi support akan mirip dengan tipe F404 yang sekarang dipakai dengan T-50i TNI-AU. Indonesia bisa berinvestasi untuk mensupport dua mesin ini dengan lebih lancar terlepas dari support Amerika.

Pengganti F-5E dan Hawk 109/209
Biaya operasional sama-sama murah, jarang jangkau jauh lebih baik, Gripen juga jauh lebih modern dan lebih cepat dari F-5E. 

Pembaca juga harus memperhatikan, sebentar lagi Hawk 209 / 109 yang dibeli TNI-AU di tahun 1990-an juga akan memasuki usia uzur. Ini membuka kemungkinan bahwa setelah membeli 16 pesawat (menggantikan F-5E), Indonesia bisa membeli 32 pesawat lagi untuk menggantikan Hawk 209 di Skuadron 1 dan 12.

Proyek KF-X
Terakhir, proyek KF-X dengan Korea, masa depannya masih meragukan. Sekarang ini Korea sudah berkomitmen utk membeli F-35 (harga selangit & memakan biaya anggaran AU Korea). Banyak orang di Korea juga menyatakan bahwa kemungkinan besar KF-X akan menelan biaya yg sama dibanding membeli F-15SE. 

Korea juga belum cukup punya kemampuan/pengalaman untuk mengembangkan pesawat dengan target ambisius seperti ini.

Sebanding 

Gripen E adalah pilihan terbaik untuk TNI-AU saat ini untuk menjaga kedaulatan bangsa di saat krisis. Pesawat ini akan memiliki keunggulan secara teknologi, network, support, kinematis, dan ongkos operasional dibanding potensial lawan-lawan regional seperti F-15SG dan F-16C/D Block 52 Singapore, F-18E Super Hornet Australia, dan Su-30MKM Malaysia.

Paket Menarik Eurofighter untuk Indonesia


Eurofighter Typhoon (all photos : militaryphotos)
.................
Dalam waktu dekat Kementerian Pertahanan dikabarkan akan kembali mengakuisisi jet tempur baru untuk mengisi hanggar Skadron Udara 14, yang sebentar lagi ditinggalkan jet pencegat F-5E/F Tiger II.

Salah satu kandidatnya adalah Eurofighter Typhoon, yang belakangan gencar ditawarkan pihak Airbus Defence & Space. Bagi Angkasa, kemunculan pesawat ini terbilang menarik, setidaknya oleh karena dua hal. Pertama adalah karena pesawat ini sejatinya dibuat berdasarkan filosofi atau kebutuhan khusus untuk sistem pertahanan udara Eropa. Dan kedua, karena pesawat ini ditawarkan dengan paket transfer teknologi yang bisa digunakan untuk masa depan industri kedirgantaraan Indonesia.

Keunggulan yang ditawarkan Typhoon ada pada dua dapur pacu Eurojet EJ200 berkekuatan masing-masing 13.490 pon dengan thrust-weight ratio 1,15 untuk menjamin kemampuannya mengejar dan menaklukkan lawan secara cepat di udara. Dengan sepasang canard yang terpasang di depan, pesawat sayap delta ini dijamin mampu melakukan gerakan menekuk dengan angle of attack yang jauh lebih impresif dibanding jet tempur pada umumnya. Gerakan menekuk amat diperlukan karena langit negara Eropa terbilang sempit.



Angkasa mencatat, Typhoon telah dirancang sejak 1980-an - ketika banyak negara Eropa tengah dihantui ekses Perang Dingin - namun baru bisa diterbangkan untuk pertama kali pada 1994 atau empat tahun setelah Perang Dingin usai. Manuverabilitas yang tinggi jadi persyaratan utama karena jet tempur ini akan digunakan sebagai tulang tombak penghadangan jet-jet tempur Uni Sovyet yang umumnya dirancang untuk menembus pertahanan udara lawan dan melakukan pemboman masif.

Penggarapan pesawat ini dipecah di empat pabrikan yang terletak di Jerman (DASA), Inggris (BAe), Italia (Aeritalia), dan Spanyol (CASA) yang pengintegrasiannya dikendalikan secara terpusat oleh Eurofighter Jagdflugzeug GmbH. Oleh sebab restrukturisasi yang diberlakukan Uni Eropa, pembuatan dan komersialisasinya kini dilimpahkan kepada BAE System, Alenia Aermacchi dan Airbus Defence & Space.

Nah, karena kewenangan penjualan atas segala produk Airbus DS untuk Indonesia dan sekitarnya kerap dilimpahkan kepada PT Dirgantara Indonesia, upaya penjualan Typhoon di wilayah ini pun dititipkan kepada manajemen pabrik pesawat yang ada di Bandung tersebut.

Sedang Dikaji

Pihak Kementerian Pertahanan dan KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan) sendiri memastikan bahwa Typhoon sudah masuk sebagai kandidat. Bersama Sukhoi Su-35 (Rusia), Dassault Rafale (Perancis), Saab Jas-39 Gripen (Swedia), Boeing F/A-18E/F Super Hornet (AS) dan Lockheed Martin F-16 Block 62, pesawat ini akan segera diseleksi menurut kebutuhan operasional (ops-req) yang diajukan TNI AU.



"Pesawat-pesawat itu kini sedang dikaji. Keputusan baru akan diambil setelah pemerintahan baru berkuasa. Kita tunggu saja" ujar sebuah sumber. Pernyataan ini serta-merta mementahkan berita online yang menyatakan bahwa Pemerintah telah menyatakan positif membeli dan tengah menunggu pengirimannya.

Lalu seperti apa persisnya transfer teknologi yang ditawarkan? Belum ada rincian pasti. Namun, seperti diungkap Vice President Bisnis dan Pemerintahan PT Dirgantara Indonesia, Irzal Rinaldi Zailani, transfer teknologi yang ditawarkan bisa mengarah ke teknologi atau elemen yang diperlukan dalam perancangan jet tempur KFX/IFX. Oleh karena proses perakitannya bisa dilakukan di Bandung, enjinir PT DI juga bisa ikut menyerap ilmu dalam pembuatan jet tempur.

KFX/IFX adalah prototipe jet tempur masa depan yang tengah dirancang Korea Selatan bersama Indonesia. Merujuk Angkasa (Februari 2014), meski telah menuntaskan tahapan Pengembangan Teknologi pada akhir 2012, pemenuhan standar generasi 4,5 yang diharapkan masih menemui sejumlah kendala. Pesawat ini diantaranya belum menemukan mitra yang benar-benar mau "berbagi" teknologi radar penjejak sasaran multi-fungsi (AESA) dan mesin pendorong berkekuatan besar.

Dari tiga gambaran mesin yang dinilai cocok, yakni Eurojet EJ200, General Electric F-414 dan General Electric F-414 baru pihak Eurojet-lah yang menawarkan diri. Di lain pihak General Electric (AS) menyatakan berat untuk berbagi mesin yang kini menjadi andalan F/A-18E/F Super Hornet itu, namun tidak dengan GE F-100 yang selama ini dipakai F-16 versi awal.

"Kami tak mau pakai F-100, karena daya dorongnya terlalu kecil. Kami tetap pada prinsip bahwa jet tempur yang dihasilkan harus yang unggul. Kalau seadanya, itu sama saja cari mati," ujar Dr Rais Zain, M.Eng, KFX/IFX Configuration Design Leader kepada Angkasa.   
Selain itu, kedua pihak juga masih mencari sistem persenjataan yang bisa disimpan dalam internal weapon bay, sistem data-link yang bisa mengacak komunikasi darat-udara dan perangkat anti-jamming.